Benci Bukan Solusi
![]() |
| pict source: google.com |
Miris ketika yang kita lakukan hanya mencaci, memaki, dan menyudutkan oranglain. Semua hal terasa menjadi gelap, hitam, dan kelam. Semua orang terlihat salah, tidak berguna, dan tidak pantas melakukan apapun. Begitu kah ?
Apa yang membuat rasa benci, marah, dan dengki di hati seseorang sehingga melampiaskan perasaan-perasaan negatifnya begitu saja? Tidak kah mereka berfikir dampak dari apa yang telah mereka buat?
Let's say, kemajuan zaman mempermudah semuanya, entah untuk hal positif maupun negatif. Tapi, hey, we have a choice to do a positive things, right? Kenapa terlalu terfokus pada hal-hal negatif yang ada pada diri orang lain dan menghujatnya?
Fenomenna cyberbullying seperti tidak asing lagi ada di msayarakat, entah seorang public figur, tokoh politik, bahkan tokoh agama, hingga anak kecil yang katanya terlalu cepat tumbuh dewasa menjadi sasaran.
"Mereka pantas dibully kok, tingkahnya seperti itu"
oke, mari membahas dampak psikologisnya. Perasaan dikucilkan, dijauhi, dan tidak diterima akan menghinggapi para korban bullying ini.
Mereka berbuat salah? oke. setiap orang pernah berbuat salah. apakah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ? apa kah satu kesalahan akan selamanya membuat orang tersebut pantas disalahkan?
Disini kita membahas fenomena yang sedang viral di media sosial, instagram. Seorang anak yang disebut sebagai "raja tik-tok" mendapat cacian karena mengadakan suatu meet and greet dengan biaya 80ribu rupiah. Permasalahannya adalah penggemar dari anak ini juga masih belia, otomatis uang untuk meet and greet tersebut didapatkan dari orangtuanya.
Masalahnya dimana? masalahnya adalah apakah semua anak tersebut memiliki latar belakang ekonomi dari kalangan menegah ke atas, yang dengan mudah mendapatkan uang untuk kebutuhan yang tidak mendesak?
Bagaimana dengan mereka yang bisa jadi berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah?
Disini kita coba lihat dua sisi, pertama dari adanya fenomena meet and greet yang dianggap tidak masuk akal tersebut.
kedua, kita coba telaah pada respon netizen yang menyudutkan anak tersebut.
Cacian dan makian tidak jarang datang dari orang dewasa yang seharusnya bisa mengontrol emosi dan ucapannya. Tapi yang terjadi adalah kebalikannya, menyerang fisik dan sejumlah kata-kata kotor yang seharusnya tidak diucapkan justru membanjiri kolom komentar dari anak yang dianggap sebagai public enemy ini.
Sebagai orang dewasa, harusnya mengerti bahwa kita baiknya membimbing, menasehati, dan memberikan arahan dengan cara yang halus. Mereka hanya butuh diberitahu, bukan dicaci maki.
Satu hal yang menyayat hati ini, ketika seorang anak dari lapas yang diberikan hukuman 7 tahun penjara saja berkata, "saya masih bisa menata masa depan saya kan?"
Hati saya teriris mendengarnya. Tentu, masa depan adalah milik mereka yang mau berusaha memperbaiki diri.
Bagaimana dengan anak yang dibully di media sosial ini? apakah tidak pantas untuk menata masa depannya?
Kita pun sebagai orang dewasa pasti pernah berbuat hal irasional yang mengundang tanda tanya bagi orang dewasa di masa kita kanak-kanak. Menulis dengan huruf yang dipadukan dengan angka, berfoto selfie dari atas dengan pose manyun, atau berbagai hal lainnya.
Semuanya merupakan proses, toh, orang dewasa di masa kita kanak-kanak tidak menyudutkan berbagai hal yang kita lakukan dulu, kan?
Kita tidak mengalami bagaimana dihujat atas tindakan konyol kita, kan?
hei, trauma psikologis itu bukan hal kecil yang bisa disepelekan. Kita tidak pernah tau apakah anak ini memiliki adaptasi yang baik terhadap masalah yang datang padanya. Apakah ada yang bisa menjamin, kesehatan mentalnya baik-baik saja dengan disudutkan seperti itu, apakah di sekolah dia tidak mendapatkan hal serupa?
kenapa saya sangat peduli akan masalah ini? banyak sekali kasus yang saya temui di kehidupan nyata tentang bullying, dua hingga tiga orang tidak terduga menceritakan bahwa ia pernah menjadi korban bullying. apa yang terjadi? rasa tidak aman, motivasi belajar yang turun, bahkan mogok sekolah, depresi hingga harus minum obat dari psikiater dan pindah sekolah? ada.
maka dari itu, daripada mengeluarkan sumpah serapah, mari, cari hal lain yang bisa menjadi solusi. Jangan hanya menjadi pencaci maki, jadi lah pencari solusi. Ucapkan yang baik. Menasehati lah tapi jangan menghujat. Be positive, ba kind, always.
With Love,
Nursyi.

0 comments