Berkenalan dengan depresi
Depresi bukan lah kutukan, bukan karena kurang doa, bukan karena ini itu ini itu yang tidak pantas unutk kalian hakimi.
Berhenti lah menyalahkan orang yang sedang mengalami hal itu.
Berhenti lah menyalahkan orang yang sedang mengalami hal itu.
Kamu tidak pernah tau bagaimana ia mencoba untuk survive, melawan perasaan-perasaan kecewa terhadap diri sendiri, kehampaan, dan kesepian.
Bangun pukul lima pagi, mematikan alarm, berjalan ke kamar mandi, menyiapkan buku untuk pergi ke kampus, menjalani hari seperti biasa, berkumpul bersama teman, mengerjakan tugas, kembali pulang untuk istirahat.
Nampaknya seperti tidak ada yang berbeda dari orang awam pada umumnya.
Namun, batinnya hampa, kosong, dan hatinya mati.
Akhir-akhir ini, isu tentang kesehatan mental mulai ramai diperbincangkan, kesadaran untuk menjaga mental tetap sehat juga mulai digemakan. Banyaknya influencer yang berani membuka kisah mereka mengenai how to survive with depression juga semakin membuka mata khalayak ramai bahwa it's okay to be not okay. Yang tidak oke itu adalah berpura-pura kamu sedang baik-baik saja, menjadi tidak acuh, dan kemudian mengabaikan "sinyal" dari dalam dirimu bahwa kondisi jiwamu sedang butuh disembuhkan.Kisah menarik datang dari youtuber yang beberapa waktu lalu mengunggah video klarifikasi. Karin Novilda, dalam videonya mengungkapkan mengenai permasalahan yang sedang dihadapinya. Yang mengejutkan, Karin memaparkan bahwa hujatan yang ia terima dari netizen membuat depresinya muncul kembali. Bedanya, ketika depresi itu ia rasakan lagi, Karin sudah tahu bahwa ia harus mencari bantuan profesional seperti psikolog.
Konten tersebut mendapat apresiasi karena ia berani untuk membuka cerita masa lalunya yang pernah mengalami depresi dan mencari bantuan profesional untuk menyembuhkan gangguan mental tersebut.
Melalui video itu, perlahan-lahan mulai banyak orang yang terbuka pikirannya bahwa pergi ke psikolg untuk mencari bantuan adalah hal yang lumrah dilakukan.
Selain Karin, melalui channel Raditya Dika, seorang youtuber bernama Andovi da Lopez juga mengaku pernah mengalami depresi dan sekarang pun ia sedang berjuang kembali untuk mengatasinya.
Baik Karin maupun Andovi sama-sama mengalami pola yang sama, keduanya pernah mengalami gejala depresi beberapa tahun lalu, kemudian beberapa tahun setelahnya, depresi itu datang lagi.
Pun, pada awal mengalami hal tersebut, keduanya belum mencari bantuan profesional.
Ini lah mengapa seseorang yang mengalami gejala depresi perlu bantuan psikolog.
Psikolog berperan untuk membantu mencari akar masalah yang kita alami.
Tidak pernah ada yang salah untuk pergi mencari bantuan profesional seperti psikolog. Sayangnya, stigma di masyarakat belum sepenuhnya memahami bahwa pergi ke psikolog bukan lah suatu aib. Prinsipnya sama saja dengan pergi ke dokter untuk berobat fisik. Mental maupun fisik seseorang sama-sama butuh service, butuh dirawat, butuh diperhatikan.
Ketika seseorang mengalami sakit fisik, gejala-gejala yang muncul mungkin dapat dirasakan secara lebih nyata sehingga penanganannya bisa lebih cepat.
Lantas, apakah ada gejala-gejala yang merupakan "sinyal" bahwa seseorang perlu pergi ke psikolog?
ada.
Dalam kasus depresi, terdapat beberapa gejala yang menandakan seseorang perlu berkonsultasi.
Seseorang terkadang tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada pada fase depresi.
Penegakan diagnosa depresi memang tidak bisa dilakukan begitu saja. Perlu ada profesional yang menegakan diagnosa. Bukan ujug-ujug mengklaim "i'm depressed".
Depresi bukan sebuah lelucon, namun hal ini bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Tangani, cari akar masalahnya sebelum terlambat.
Apa saja memangnya gejala depresi?
Apabila minimal dalam dua minggu kamu mengalami perasaan murung, sedih berkepanjangan, mudah lelah dan malas beraktivitas, kemudian diirngin dengan minimal dua gejala diantaranya; penurunan konsentrasi, pengurangan rasa percaya diri, pikiran perihal dosa masa lalu, pandangan masa depan yang suram, gagasan atau tindakan yang mencederai diri sendiri, gangguan makan, atau gangguan tidur.
Depresi merupakan gangguan suasana perasaan yang menetap yang ditandai dengan perasaan sedih perkepanjangan, tidak berdaya, tidak memiliki harapan dalam kehidupan.
Depresi seting kali tidak dikenali. Gejala depresi ditampilkan pada 20% sampai 30% pasien yang berkunjung ke klinik umum (WHO report, 2001)
Celakanya, jika tidak ditangani, ternyata depresi dapat memperberat resiko bunuh diri.
Depresi tidak bisa disepelekan.
Apakah kamu masih ingat, kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang penyanyi Chester Bennington (vokalis Linkin Park) yang beberapa jam sebelum kematiannya masih tertawa dengan bahagia?
Depresi merupakan gangguan suasana perasaan yang menetap yang ditandai dengan perasaan sedih perkepanjangan, tidak berdaya, tidak memiliki harapan dalam kehidupan.
Depresi seting kali tidak dikenali. Gejala depresi ditampilkan pada 20% sampai 30% pasien yang berkunjung ke klinik umum (WHO report, 2001)
Celakanya, jika tidak ditangani, ternyata depresi dapat memperberat resiko bunuh diri.
Sebenarnya, apa penyebab depresi?
Menurut Dr. Marion H. Nelson (Maurus, 2018), depresi terbentuk ketika berhadapan denganbahaya nyata maupun bahaya khayal.
Terdapat lima bentuk depresi psikologis. Pertama, kemarahan yang ditekan. Tidak peduli apakah amarah itu beralasan atau tidak, namun apabila kemarahan itu ditekan ke alam bawah sadar, maka akan menhasilkan depresi psiko-fisiologis tertentu.
Kedua, depresi yang bersumber dari rasa sakit yang dikubur ke dalam alam bawah sadar. Manusia sering kali menekan rasa sakit yang dialaminya agar tidak muncul ke permukaan, hal ini lah yang mengakibatkan rasa gelisah sehingga menghasilkan depresi.
Ketiga, ketika seseorang merasa terancam akan kehilangan seperti pekerjaan, nama, orang yang dicintai, dll.
Keempat, depresi skizoid. Adanya rasa hampa dan kesepian serta menghindari hubungan dengan orang lain.
Kelima, depresi skizofrenia atau endogenus. Pada depresi skizofrenia, seseorang yang mengalaminya tidak bisa membedakan mana kenyatan dan khayalan. Misalkan, meyakini dirinya adalah seorang superhero favoritnya.Depresi tidak bisa disepelekan.
Apakah kamu masih ingat, kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang penyanyi Chester Bennington (vokalis Linkin Park) yang beberapa jam sebelum kematiannya masih tertawa dengan bahagia?
Depresi selalu memiliki banyak wajah. Bukan hanya pada orang yang "terlihat murung" saja.
Bisa jadi, seorang perempuan muda yang sedang menyeruput kopi dan tertawa bersama teman-temannya yang kamu temui di sudut kota itu sedang merasakan kehampaan luarbiasa di dalam dirinya. Mungkin, lelaki keren dengan jas coklat tua yang merupakan CEO sebuah perusahaan besar yang kamu kagumi itu sedang berjuang melawan perasaan-perasaan bahwa ia tidak berharga. Atau, seorang sahabat yang selalu setia menemanimu ketika jatuh terpuruk, justru memendam banyak sekali luka yang tidak bisa diungkapkannya kepada siapapun, tidak pernah ada yang tahu bahwa ia menjalani harinya dengan kehampaan yang dibalut dengan "topeng keceriaan".
Di sisi lain, menurut J. Maurus dalam bukunya "Coping with depression", seseorang yang sedang mengalami depresi bisa betah berdiam diri sendirian di dalam ruangannya tanpa melakukan apa-apa, abai terhadap orang lain, ia tenggelam dalam dirinya sendiri dan terputus dengan dunia luar. Adanya tembok besar dan tinggi antara dirinya dan orang lain. Bisa saja, ia sedang berada di keramaian namun jauh di dalam dirinya, perasaan kesepian itu masih sangat kuat.
Hal ini dialami oleh seorang sahabat yang tidak bisa disebutkan dengan alasan kerahasiaan. Dirinya adalah seorang hebat dengan banyak prestasi, kemampuan networking yang oke, dan mudah bergaul dengan orang-orang baru. Singkat cerita, dirinya adalah seorang optimis yang ceria.
Namun suatu ketika, dunianya berubah. Ia hanya berdiam diri di kamar selama berbulan-bulan, tidak pergi ke kampus, tidak memperhatikan dirinya, semua hal terbengkalai bahkan urusan makan dan mandi pun nampak bukan lagi sebuah kebutuhan.
Melihat hal ini, teman-teman dekatnya pun bergantian menghampiri dan memberikan semangat.
Apakah berhasil? Butuh waktu lama.
Seseorang yang sedang berada pada fase depresi memiliki rasa curiga yang lebih besar terhadap orang lain. Seolah tidak ada yang mampu memahami dirinya. "Tembok besar" itu memang harus dihancurkan secara perlahan untuk membawanya keluar dari penjara yang dibuatnya sendiri.
Namun, ketulusan dan kesabaran dari orang-orang di sekitarnya adalah suatu cahaya di tengah gelap. Jangan menyerah untuk membantu sahabatmu. Jangan biarkan ia tenggelam sendirian.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Saputri dan Indrawati (2011), dukungan sosial memiliki hubungan negatif terhadap depresi. Artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima seseorang maka semakin rendah depresi.
Dukungan sosial dapat bersumber dari teman, keluarga, orang terdekat, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, berhenti lah untuk acuh tak acuh terhadap orang lain. Bisa jadi, dukungan yang kita berikan dapat membantunya keluar dari rasa cemasnya.
Pun, ketika kamu sedang mengalami fase depresi ini, jangan takut untuk membuka diri.
Sebelum semuanya terlambat. Selagi masih bisa diatasi.
Jika kamu sedang membaca tulisan ini, dan kamu sedang merasa bingung terhadap apa yang kamu rasakan sekarang. Please believe me, you never face it alone. Kamu berhak untuk bahagia. Langit kelabu yang hari ini kamu hadapi akan berganti menjadi hari baru yang lebih berwarna. Hari itu akan datang apabila kamu mau bertahan sebentar saja. Buka pintumu, cari bantuan profesional. Pelan-pelan buka dirimu, jangan pernah terpaku pada kecewa masa lalumu. Kamu pantas bahagia.
0 comments