Kekuatan Mimpi
Saya percaya, Tuhan selalu menyiapkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Saya juga percaya, kita harus mempersiapkan segala sesuatunya.
Bermimpi kedengarannya merupakan hal yang mudah, tapi kita tetap saja enggan bermimpi, katanya takut jatuh kalau mimpinya ketinggian..
pict source: Pinterest
Padahal, kalau jatuh juga tidak apa-apa bukan?
Ir Soekarno pernah bilang, "bermimpi lah setinggi mungkin, bila jatuh, engkau akan jatuh di antara ribuan bintang"
indah kan?
Saya kecil punya banyak mimpi, dari yang mungkin terjadi di dunia nyata hingga hanya fantasi.
Saya ingin menjadi toko kartun yang saya tonton, tentu saja itu hanya fiksi.
Memberantas kejahatan dengan kostum power ranger warna pink, punya banyak teman seperti sizuka, berpetualang seperti hamtaro, tinggal di bukit teletabis dan makan kue tabi, hingga punya kekuatan sengatan listrik seperti pikachu.
Tidak salah, anak kecil memang senang mengkhayal.
Khayalan pertama saya yang paling realistis adalah pergi ke Jepang. Entah kenapa saya begitu ingin pergi kesana, mungkin agar saya bisa bertemu dengan doraemon, ya?
Bertahun-tahun lamanya, khayalan yang bahkan saya sudah lupa pernah ditulis di sebuah kertas saat saya masih di bangku Sekolah Dasar itu ternyata menjadi kenyataan pada 2016 silam.
Saya pergi ke Jepang, bukan untuk bertemu doraemon. Saya dan rekan berangkat ke negeri sakura itu untuk mempresentasikan sebuah karya ilmiah ber-tema-kan psikologi islam.
Saat itu saya masih tergolong mahasiswa baru, baru tahun ke-dua.
Belum banyak teman-teman satu angkatan yang memberanikan langkah untuk melakukan riset dan mempresentasikan di depan khyalayak umum.
Rasanya cukup mendebarkan, kami hanya berdua pergi melanglang buana ke negeri orang, tidak mengerti bahasa lokal, tidak tahu jalan, tidak membawa banyak uang.. kami sempat berfikir bagaimana bila kami tidak bisa pulang ke Indonesia lagi ya? Ditambah saat itu kami tersesat di tempat yang jauh dari kota dan keramaian. Benar-benar sebuah pengalaman yang seru.
Bermimpi itu mengasyikan.
Kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan menjawabNya.
Entah mimpi yang kita amin-kan dengan sangat serius, atau mimpi yang sekedar kita khayal-khayal-kan saat duduk melamun di ruang kelas.
Kita tidak pernah tahu doa mana yang Tuhan jadikan kenyataan lebih dahulu.
Sebelumnya, saya pernah tidak sengaja membaca sebuah artikel. Saat itu saya masih di bangku Sekolah Dasar, belum begitu mengerti tentang ini dan itu. Sebuah foto perempuan paruh baya dengan jas hitamnya yang elegan menarik perhatian saya, isinya kira-kira menceritakan tentang pengalamannya menjadi seorang public relation di sebuah perusahaan besar. Katanya, menjadui seorang public relation itu mengasyikan, bisa bertemu banyak orang baru. Saya tertarik dan mengaminkan profesi tersebut, lalu saya tutup koran yang berisikan artikel itu.
Amin satu kali yang saya panjatkan saat itu diwujudkan Tuhan beberapa tahun setelahnya.
Bahkan saya hampir lupa pernah memintanya.
Saya diberikan amanah untuk bergabung bersama divisi public relation di sebuah NGO.
Benar saya, rasanya benar-benar seru.
Lagi-lagi Tuhan memberikan jawaban dari sebuah mimpi.
Mimpi-mimpi yang hanya sekilas terlintas di angan ternyata bisa menjadi sebuah kenyataan atas izin-Nya.
Apalagi mimpi-mimpi yang se-serius itu kita amin-kan setiap sujud, bukan?
Tuhan hanya memberi kita tiga jawaban: Iya, Tunggu, Akan Ku ganti yang lebih baik.
Bila belum sekarang, mungkin esok. Jangan pernah berhenti panjatkan doa, kencangkan usaha, dan biarkan semesta bekerja.
Akan selalu ada celah untuk mereka yang pantang menyerah.
Hari itu saya ingat, saya menuju rak buku yang letaknya ada di pinggir toko.
Buku yang membuat saya pertama kali jatuh hati dengan jurusan kuliah saya: psikologi.
Tertulis di sana penulisnya adalah seorang alumni psikologi di sebuah universitas.
Saya yang masih duduk di kelas lima SD belum begitu paham apa itu psikolog, apa itu ilmu psikologi.
Saya sampaikan keinginan saya kepada mama. Beliau hanya tersenyum, dalam prasangkanya mungkin saya hanya tertarik sesaat.
Waktu terus berjalan, hingga saya memasuki bangku SMP.
Tahun-tahun yang saya lalui semakin memperkuat tekad saya.
Saya selalu ingin memberikan manfaat, terutama untuk lingkungan terdekat saya, juga untuk diri saya.
Saya sering menonton acara motivasi yang disiarkan di stasiun televisi nasional. Sang pembicara selalu bisa membuat saya bertanya-tanya "apa saya bisa menjadi bagian dari generasi hebat yang akan mengangkat harkat martabat bangsa?"
Dengan segala tekad, saya meyakinkan diri bahwa saya harus bisa.
Esoknya saat berangkat ke sekolah, saya bertanya, sahabat-sahabat saya, apa impian terbesar mereka?
katanya, nanti dulu, biar semesta yang menuntun.
Saya kembali merenung, apakah saya terlalu cepat matang saat itu?
Saya memikirkan kondisi diri saya tahunan yang akan datang. Saya membayangkan diri saya berdiri di atas panggung besar dan mengajak banyak anak untuk bermimpi, mengusahakannya, dan memujudkannya.
ah tidak, saya tidak sendiri. saya percaya banyak teman-teman di luar saya yang juga menggantungkan angannya di angkasa.
ketika saya bisa meraihnya, saya tidak mau berpuas-puas sendiri, saya ingin ajak yang lain sama-sama.
dua cita-cita yang ternyata bisa disatukan, seorang psikolog yang memiliki keahlian public speaking, itu lah yang saya ingin wujudkan.
Lagi lagi mimpi itu saya komunikasikan. Sayang, jalannya tak begitu mulus. Banyak tantangan dan tentangan yang saya terima. Katanya, profesi seperti itu tidak menjanjikan.
Tapi, bukan kah Tuhan menyukai hambaNya yang melakukan kebaikan? saya mencita-citakan hal tersebut semata untuk membagikan semangat. Saya hanya ingin lebih banyak anak seumur saya yang bisa menemukan mimpinya, mengenal dirinya, dan menentukan pilihan hidupnya.
Bertahun-tahun saya mendamba, bertahun-tahun saya harus menelan penolakan.
Satu hal yang tidak bisa saya lawan adalah restu.
Kalaupun niat saya baik, saya harus mendapatkannya dengan jalan yang baik.
Bertahun saya berusaha, bertahun saya memohon kepada Tuhan. Saya menghindari perdebatan, akhirnya, dengan segala kuasaNya, dengan cara yang ajaib, pertentangan-pertentangan yang saya terima justru berbalik menjadi sebuah dukungan yang tiada henti-hentinya mengalir.
Saya tidak tahu kapan mimpi ini akan terwujud, yang jelas, hingga detik ini saya masih terus berusaha dan berdoa, cepat atau lambat, mudah atau sukar, saya hanya berharap Tuhan akan membukakan kembali jalanNya.
Satu yang saya pahami, bahwa bermimpi tidak pernah membuat merugi, bermimpi adalah gerbang awal untuk sebuah keajaiban.
"A girl with dreams, become a women with vision"
-Nursyifa Pratiwi, (2015)
Jangan berhenti untuk percaya, jangan berhenti untuk mencoba.


0 comments