Kesehatan Mental: Rame banget dibahas, sebenarnya apa sih?

Kampanye mengenai kesehatan mental nampaknya sudah mulai perlahan sukses masuk ke masyarakat. Ajakan untuk menyadari emosi yang ada di dalam diri dan mengakuinya, menerima, dan berdamai. Kira-kira begitu gambaran mengenai kampanye kesehatan mental.

Tapi, kesehatan mental itu apa sih?

(pict source: google.com)

Manusia punya jasad dan ruh, dan kedua hal itu saling berhubungan. Termasuk dalam hal kesehatan.
Untuk mencapai kesehatan yang holistik, sehat fisik aja ga cukup tapi juga harus sehat menatl.
"No health without mental health"
Balik lagi, karena jasad dan ruh saling terhubung, biasanya kalau lagi sakit fisik akan berpengaruh juga ke kondisi mental atau kejiwaan kita. Sesimple lagi flu, bawaannya jadi lemas terus suasana hati juga ga bersemangat, pengennya rebahan haha!

Sebaliknya, kalau lagi gak baik-baik aja.. biasanya berpengaruh loh ke fisik.
Pernah gak kalian periksa ke dokter ngeluh sakit kepala, mual, eh ternyata pas diperiksa dokternya bilang secara fisik kamu baik-baik aja, tekanan darah normal, suhu tubuh juga normal. Malah disaranin ke psikolog/psikiater. Itu namanya psikosomatis
Psikosomatis? 
Iya, psikosomatis adalah kondisi di mana kondisi psikologis mempengaruhi kondisi fisik,kayak yang diceritain di atas.

Nah, itu lah kenapa kita perlu ngejaga kesehatan mental, fisik dan psikis kita saling terhubung sob.

Kalau dari menurut WHO:
Kesehatan mental adalah kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu meliputi kemampuan untuk mengelola stress kehidupan yang wajar, bekerja secara produktif dan mengasilkan, dan berperan di komunitasnya.
Nah, perlu digaris bawahi ya tiga indikatornya:
1. Mampu mengelola stress kehidupan yang wajar
2. Bekerja secara produktif dan menghasilkan
3. Berperan di komunitasnya

Jadi, kalau tiga indikator di atas sudah terpenuhi maka seseorang bisa dikatan sehat secara mental.
Coba dibahas pelan-pelan ya.

Dari yang pertama, mampu mengelola stress kehidupan yang wajar.
Dalam kehidupan wajar kalau kita mengalami stress. Arti stress sendiri adalah suatu kondisi di saat seseorang menghadapi ancaman, tekanan, atau perubahan.
Tapi stress ga selamanya buruk loh. Ada yang namanya eustress yaitu saat kondisi stress justru dianggap sebagai tantangan. Misalnya ketika menghadapi UTS di sekolah, karna ga mau nilainya jelek jadi belajar sungguh-sungguh. Ini justru bagus, kalau meremehkan justru kita ga akan berkembang dan berusaha.
Ada juga yang namnya distress, kalau yang ini sifatnya menguras tenaga dan pikiran malah jadi gak produktif.

Selagi stress bisa dikola dengan baik, kita bisa kok mencapai kesehatan mental ini.

Yang kedua, bekerja secara produktif dan menghasilkan.
Kalau stress sudah bisa dikeola, kita jadi bisa bekerja secara produktif kan? Bisa ngelakuin hal yang disukai dan menghasilkan. Menghasilkan di sini ga melulu soal uang ya, bisa juga karya. Kalau hobi nulis, bikin karya tulisan. Kalau hobi seni lukis, bikin karya lukisan.

Terakhir, berperan di komunitasnya.
Secara alami manusia punya kebutuhan untuk dipenuhi. Menurut Maslow begini:

pict source: google.com

Piramida di atas adalah gambaran kebutuhan manusia. Dari yang paling dasar, manusia akan terus berusaha memenuhi kebutuhannya hingga sampai di puncak.
Artinya, secara alami kita punya kebutuhan untuk berkontribusi di komunitas entah itu keluarga, pertemanan, hingga masyarakat.

Nah, itu tadi tiga indikator kesehatan mental menurut WHO.
Terus kalau indikator itu ga ada di diri kita gimana?

Gini, sama kayak fisik, psikis kita juga kadang lagi baik-baik aja kadang juga enggak kan?
Ngomongi kesehatan mental ini bisa diilutrasikan kayak garis kontinum. Kadang ada di kontinum kanan, kadang ada di kontinum kiri. Wajar. Kita bicara dalam konteks bukan gangguan psikologis ya, pembahasannya beda lagi bakal lebih spesifik. Tapi secara umum sebagai manusia biasa, ya kadang-kadang sedih, kesal, marah, jadi malas dan gak produktif lah.

Dalam sehari bisa terjadi banyak peristiwa kan? Apalagi dalam hitungan bulan, tahun. Bisa karna musibah, bencana, putus hubungan, atau kejadian lain yang menimbulkan emosi negatif. 

Sama juga kayak baterai hape, ga selamanya 100% kadang ya bia turun lah 80% atau drop sampai 2%.

Terus kalau lagi drop gimana?
Istirahat, kasih jeda dulu sebentar. Recharge lagi! (Nanti aku coba bahas mengenai cara recharge energi di postingan selanjutnya)

Kita boleh kok untuk merasa sedang gak baik-baik aja, kita boleh untuk ngerasa capek, boleh istirahat. Tapi nanti, jangan lupa bangkit lagi, pelan-pelan aja.

Nah kesehatan mental dipengaruhi oleh beberapa faktor:
1. Biologis (lagi capek apa enggak)
2. Psikologis (Kondisi emosinya gimana?)
3. Sosial (Relasi yang dijalin sama orang-orang sekitar)

Jadi memang ada faktor-faktor penentu juga dalam merawat kesehatan mental nih.
Terus kalau ternyata dipengaruhi faktor-faktor itu harus gimana?
No matter what, take care of your own mental health
Faktor-faktor itu bisa dikontrol gak sih biar kita tetap sehat mental? Bisa.
Manusia bertindak sebagai subjek dan penentu dari apa yang dijalaninya dan memegang kendali terhadap apa yang diputuskannya.

Simplenya gini, secara biologis misalnya lagi capek, ya udah istirahat.
Secara psikologisnya lagi emosi, tenangin dulu, ambil nafas, istirahat, kasih jeda. Kalau memang yang dihadapin berat, boleh kok cari pertolongan. Curhat ke orang yang bisa dipercaya, atau pergi ke profesional seperti psikolog/psikiater.
Secara sosial, penting banget untuk memilih lingkungan yang tepat dan menjalin relasi yang sehat. Kita punya hak untuk memilih dan memilah siapa saja boleh masuk ke kehidupan kita, pun sebaliknya, kalau orang lain ga ijinin masuk ke kehidupannya, harus legowo, dia lagi ngejaga kondisi kesehatan mentalnya juga tuh hehe. Kita ga bisa ngatur-ngatur orang lain atau peristiwa tertentu, tapi bisa ngatur diri sendiri. Mind your own business  aja. Jaga orang-orang yang pantas untuk tetap menetap, yang bisa sama-sama bertumbuh.

That's all. Semoga postingan ini bermanfaat!
Take care of your mental health, because no one has responsibility to do it for you. It's yours.

You May Also Like

0 comments