Healing takes time, but time heals nothing!
Aku ga percaya, dan menolak pernyataan itu.
(pict source: google)
Healing adalah proses untuk menyembuhkan diri dari luka batin. Menyembuhkan. Artinya ada usaha untuk sembuh. Beda ya kalau tersembuhkan, artinya ga ada usaha sadar dan terencana, ya terjadi aja gitu seiring berjalannya waktu. Dan gak ada luka yang tersembuhkan dengan sendirinya.
Bener gak sih waktu bisa menyembuhkan?
Tidak.
Seiring berjalannya waktu kita cuma akan mengubur dalam-dalam luka yang pernah dirasain. Kalau dalam istilah psikologi ada yang namanya represi yaitu suatu mekanisme pertahanan diri menurut Sigmund Freud yang dilakukan seseorang untuk menekan emosi-emosi negatifnya jauh ke alam bawah sadar. Dampaknya, suatu saat bisa aja jadi bom waktu.
Kenapa sih seseorang bisa represi?
Gini, kadang kita memegang nilai dan norma yang memaksa untuk tidak memenuhi apa yang kita inginkan. Di masyarakat, ada bias gender yang seolah memaksa laki-laki untuk tahan banting dan tidak cengeng, "Laki-laki kok cengeng! sudah besar juga masih kayak anak kecil"
Ga dibolehin sedih, ga boleh nangis. Padahal sedih itu wajar loh. Akhirnya emosi-emosi yang ga bisa tersalurkan ini ditenggelamkan dalam-dalam.
Atau saat kita marah, tapi normanya adalah kita ga boleh marah karna marah itu ga baik, katanya. Jadinya ya ditekan aja marahnya.
Sebenarnya, marah bisa disalurkan dengan baik tanpa bentak-bentak atau nada tinggi.
Sampaikan dengan kalimat asertif, contohnya "Aku kecewa dan sedih kalau dibanding-bandingin terus, aku berharap ada sesuatu dalam diri ku yang bisa dianggap bagus juga" Terdengar lebih plagmatis bukan?
Rumusnya sederhana:
1. Sampaikan perasaanmu
2. Sampaikan harapanmu
Selain perasaan dapat tersampaikan dengan lugas, orang lain juga bisa mengerti sudut pandang dan harapan kita.
Dengan perilaku asertif kita secara gak langsung sudah mengakui apa yang kita rasa, jadi kita ga perlu menekan emosi negatif jauh ke alam bawah sadar. Kita sadar, dan dengan kesadaran juga menyampaikan apa yang dirasakan.
Nah, itu kan mencegah. Kalau ngobatin gimana?
Sama kayak luka yang bisa terlihat secara fisik, perlu dibersihkan, dirawat, dan disembuhkan. Dulu ketika kecil inget gak sih kalau lagi main sepeda terus jatuh, lukanya dibersihin kan? Kalau enggak dirawat dan disembuhkan yang ada malah infeksi! Gitu juga psikis kita.
Terus gimana caranya?
Sadari dulu. Ga usah denial,
"Gak kok aku gapapa, aku baik-baik aja"
Sadari kalau diri kita terluka. Lalu, harus punya tekad dan keberanian buat menyembuhkannya. Terima dulu, terima kalau memang kejadian atau peristiwa yang kita alamin ternyata menyakitkan. Terima dan hadapi bahwa ekspektasi ga selalu sesuai realita. Jangan tenggelam dalam pikiran dan harapan diri sendiri.
Kalau memang sulit untuk menyadarinya, kita bisa minta bantuin orang lain yang bisa melihat segala sesuatu lebih objektif. Terkadang menghadapi permasalahan pribadi kita cenderung subjektif, berpikir di ranah hitam-putih. Kadang merasa paling benar, kadang juga terlalu menyalahkan diri sendiri. Padahal pikiran bisa saja keliru.
Bahkan kadang kita ga sadar loh kalu ternyata ada luka di dalam diri kita. Kayak semuanya baik-baik aja. Artinya, luka tersebut masih ada di ranah alam bawah sadar, perlu dibawa ke ranah sadar.
Biasanya begini, "Kok aku hobi marah ya?" "Kenapa ya kok sensitif banget?" pernag gak sih kepikiran kayak gini? Bisa jadi ada yang harus dibereskan.
Kalau sudah menyadari dan menerima, langkah selanjutnya adalah memaafkan.
Memaafkan ini berbeda dengan melupakan. Kita ga boleh lupa, dan memang ga bisa lupa terutama kejadian yang berkaitan dengan emosional dan peristiwa yang menyakitkan akan tersimpan lebih lama. Otak memang didesain untuk mengingat. Terutama tiga hal berikut ini:
1. Sesuatu yang diulang-ulang
2. Berkaitan dengan emosional
3. Relatable
Memaafkan ini proses. Gak bisa serta merta dan bukan cuman ucapan "aku udah maafin"
Ciri kita sudah berdamai dan memaafkan adalah ketika suatu peristiwa sudah tidak membawa rasa sakit. Jadi kalau keingat atau menghadapi situasi serupa, udah ga sesak, udah netral.
Memaafkan dan berdamai butuh waktu, tapi kalau gak dilakukan, kita ga akan pernah healing. Lukanya bakal terus menganga dan makin parah.
Gapapa, gak mesti buru-buru, "Aku masih sakit hati sih tapi berencana memaafkan" ini sudah beberapa langkah lebih baik dibandingkan "aku gapapa" karena di sini sudah ada proses untuk menyadari dan ada usaha untuk healing.
Prosesnya juga gak selalu berjalan lancar, mulus, kayak jalan tol. Kadang ada aja hambatannya.
Healing is not liniear.
Kadang masih sebel, masih sakit, apalagi kalau peristiwa yang dialamin adalah peristiwa traumatis.
Healing takes time, but time heals nothing without action.
Semoga Tuhan bantu kita semua untuk sembuh ya, apapun itu yang sedang diusahakan untuk disembuhkan.

0 comments