Jogja: Proses Tanpa Batas.
![]() |
| Kota Yogyakarta, 2017. |
Aku menikmati proses ketika gagal, artinya aku sedang menghabiskan jatah gagalku. Ada yang bilang, setiap kita punya jatah gagalnya masing-masing. Habiskan jatah gagalmu sekarang, agar tidak menyesal nanti kamu tumpuk jatah gagal itu di masa tua, sudah terlambat.
Dari sebuah kegagalan, kita bisa berproses, intropeksi diri dan bangkit kembali. Hal paling syahdu ketika kita gagal adalah kita punya waktu untuk merenung. Kita punya waktu lebih banyak untuk membisikan doa-doa secara lebih khidmat kepada Tuhan.
Datanglah, Tuhan tidak pernah menutup pintunya ketika hamba-hambaNya yang lemah dan tak berdaya ini mengetuk pintu. Walau kadang kita sendiri yang sering lupa bagaimana bersimbah sujud memohon ampun. Sadarkah? kita terlalu sibuk dengan euphoria perayaan keberhasilan. Hingga kita hanya datang untuk berlindung dari ganasnya petir yang menyelimuti mendung atas kegagalan kita.
Proses. Kegagalan adalah proses yang pasti pernah kita alami, bukan?
Belajar. Proses demi proses itu memaksa kita untuk belajar lebih banyak mengenai semua hal. Sabar, gigih, kerja keras dan pantang menyerah. Dari kota ini, Tuhan ingin aku belajar lebih banyak. Dari kota ini aku belajar menjadi lebih dewasa. Aku gagal, aku harus berjuang, aku menahan kantuk, aku menikmati setiap tetes airmata maupun keringat yang mengguyur membasahi dahi.
Kita semua harus kuat, harus bertahan. Dalam berproses memang tidak ada yang membuat nyaman. Kita dipaksa keluar dari zona nyaman dan memasuki zona tidak nyaman.
Bertemu dengan banyak orang yang lebih dulu berproses menjadi salah satu hikmah tersendiri bagiku. Dari mereka aku belajar, banyak hal. Entah kepada mereka yang sering aku ajak sharing mengenai berbagai hal, atau kepada mereka yang baru sempat dua tiga kali kuajak berbincang.
Aku senang belajar apapun dari siapapun.
Dari Kak Emir misalnya, walau tidak berdomisili di Jogja, tapi darinya aku belajar untuk berani melangkah menjadi anak rantau. Aku belajar bagaimana untuk bisa berkontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Aku belajar bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya memikirkan diri sendiri tapi juga di pundak kita ada beban tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa. Aku belajar untuk lebih berani melangkah dan berbagi.
Lantas, aku bergegas mencari tempat yang tepat untuk berproses hingga kini, aku akhirnya menemukan tempat yang bagiku bukan sekedar komisariat tempat aktualisasi diri, aku menemukan rumah. Disana aku lagi lagi bertemu dengan mereka yang sudah lebih dulu berproses, Bang Ocep misalnya, aku belajar bahwa peduli itu tidak punya batas, siap menolong dan membantu sesama. Sedikit kisah tentang masa ospekku yang sangat penuh drama, sebagai seorang anak rantau tanpa sanak saudara, ketika terjadi sesuatu denganku di lingkungan baru, aku bingung harus bagaimana, terlebih ketika aku terjatuh di depan boulevard bersama motor putih yang selalu aku naiki. Aku tidak tau harus apa, aku hanya bingung dan entah mengapa pipiku sudah basah, seluruh badanku sakit dan kelu. Datanglah mereka, satu pasukan tim ospek. Entah ada panggilan apa yang membuat sangat panik, datang juga Putri, berjalan dengan tergesa-gesa dari arah depan, wajahnya panik dan aku hanya bisa memeluknya, darinya aku juga belajar bahwa kita bisa membuat seseorang tidak merasa sendiri hanya dengan satu pelukan tulus.
Tuhan juga menunjukanku tempat proses dengan cara yang ajaib, di suatu pagi, aku hanya berjalan santai bersama mama, entah mengapa aku tertarik untuk menuju satu tempat, iya, komisariat yang selalu punya tempat khusus dalam memoriku ketika aku membicarakan Jogja. Aku ingat pertama kali disana ada Bang Argo, Bang Ilham dan Bang Akmal, yang waktu itu belum ku kenal. Tapi kini, semakin banyak pembelajaran yang aku dapat setelah mengenal satu demi satu dari mereka. Dari Bang Argo aku belajar bagaimana menjadi tidak panik tapi setiap pekerjaan bisa selesai, belajar bagaimana menjadi pemimpin yang bisa mengayomi dan belajar bagaimana menempatkan diri ketika harus tegas dan kapan harus lunak. Dari Bang Akmal pun tak jauh berbeda, kualitas kepemimpinanya serta kepandainnya dalam mengatur waktu antara akademik dan organisasi harus diacungi jempol. Dari Bang Ilham, aku belajar bahwa menjadi pemimpin itu harus bisa sabar, harus bisa mendengarkan.
Bukan hanya dari mereka, aku belajar dari Kak Dini. Aku memang tidak pernah berbicara banyak dengannya, tapi aku kagum ketika suatu acara kepanitiaan dia bisa begitu loyal, aku sangat ingat ini, "Bukan perkara take and give tapi fokuslah untuk give and give", ya, dengan cara ini Tuhan menunjukkan inspirasi untuk bisa memberi lebih banyak dan lebih ikhlas.
Akan kuceritakan lebih banyak tentang mereka yang sudah membuatku belajar,
Kak Bibil, aku selalu heran bagaimana caranya dia untuk selalu tersenyum, menyapa dan bersikap hangat kepada siapapun dan dimanapun. Aku tidak pernah melihat wajahnya lelah, suatu ketika setelah rapat kepanitiaan menjelang malam, aku bingung bagaimana caranya mengeluarkan kendaraan bermotorku dari lapangan parkir karena saat itu sudah terlalu larut dan aku lupa memindahkannya ke depan halaman kantor lembaga. Dengan cekatan dia menawarkan untuk mengantarkan ke parkiran dan menemui petugas keamanan, padahal aku tahu ia memiliki urusan lain yang lebih penting, aku dengar percakapannya dengan salah seorang rekan yang membawa banyak berkas.
Aku sungguh tidak mengerti kenapa Tuhan mengirimkan begitu banyak malaikat-malaikatnya dengan hati selembut kapas, begitu banyak aku dapat belajar.
Dari Lia misalnya, saat aku yang tidak tahu bagaimana harus berangkat ke Surbaya untuk mengurus Visa di Kedutaan Besar Jepang, Lia menawarkan dirinya untuk menemaniku. Masih ada satu lagi hambaNya yang berhati baik dan tidak pamrih. Aku juga belajar dari Kak Adel dan Kak Gema yang punya sifat keibuan. Mereka semua luarbiasa.
Mungkin bila aku tulis semua, tidak akan selesai tulisan ini. Masih terlalu banyak yang ingin aku apresiasi dari mereka yang tidak sempat tertulis di halaman ini. Walau tidak bisa kutuliskan satu per satu, tapi setiap dari kalian punya tempat masing-masing di ruang hatiku bersama seluruh kenangan tentang Jogja.
Setelah aku belajar banyak, aku mencoba menerapkan setiap hal baik dari orang-orang yang aku temui.
Agustus 2016, aku memiliki kesempatan untuk menjadi wali jawaah, atau disebut waljam, waljam bertugas menjadi kakak baiknya adek-adek yang sedang mengikuti ospek. Aku mengadopsi apa yang diterapkan Bang Ocep sebagai waljamku dulu, aku mencoba merangkul adek-adek itu. Aku mencoba menghadirkan setiap rasa manis dalam perjalanan hidupku 1 tahun di Jogja sejak 2015, aku ingin mereka merasakan hangatnya suasana Jogja, dekatnya satu sama lain walaupun jauh dari keluarga, seperti yang kurasakan.Pada akhirnya, setelah semua rangkaian acara selesai, ucapan rindu dan haru satu persatu mereka lontarkan. Apapun itu, aku bahagia jika mereka mulai mencintai kota ini juga.
Banyak. Banyak yang hal yang akhirnya kutemukan disini. Merangkai setiap mimpi bahkan membongkarnya kembali, menyusunnya, hingga ia benar-benar menjadi nyata.
Aku akhirnya merubah rute mimpiku, setelah melalui proses-proses ini. Aku ingin hidup lebih berarti dan bermakna, seperti dulu doa-doa yang aku panjatkan kepada Tuhan. Menjadi apa yang memang seharusnya merupakan tempatku. Berbagi. Aku lebih memilih menjadi pohon yang dapat menaungi banyak orang ketika terik, daripada aku harus menjulang tinggi tapi mereka tersengat matahari yang begitu panas.
Di kota ini, lagi-lagi aku menemukan banyak keajaiban. Apa kamu pernah merasakan genggam erat seorang anak yang menaruh penuh harapannya di tanganmu?
Anak yang tadinya sangat takut untuk berjumpa teman-temannya, mungkin, tidak ada satupun yang mau menggenggam tangannya untu turut bermain, aku tahu, terasa begitu dingin dan pucat tangan itu sebelumnya.
Ia menganggapmu sebagai sosok kakak yang paling mengerti dirinya, padahal, kamu sendiri tergores beribu-ribu kali karena melihat senyum tulusnya menyimpan banyak harapan.
Atau, pernah melihat kerutan di wajah renta bapak penjaga keamanan, ibu penjual tempe di pasar hingga bapak penjaga parkir di depan toko kue itu seketika mata mereka yang justru lebih banyak berbicara ketimbang mulut mereka yang semakin jarang untuk mengucap kata karena tidak banyak dari kita yang sekedar memberi sapaan tulus, menanyakan kabar atau ucapan terimakasih.
Di Jogja, banyak cara untuk memanusiakan manusia, menghargai mereka, siapapun, apapun profesinya, berapaun usianya, darimana asalnya.
Jogja memang sebuah kota, tapi kita lah yang bertugas menjadi jiwa, jiwa yang menyenangkan, menenangkan dan memberikan manfaat.
Selamat berproses,
Teruslah lakukan proses itu dan jangan merasa puas untuk menjadi lebih baik.
Dari sebuah kegagalan, kita bisa berproses, intropeksi diri dan bangkit kembali. Hal paling syahdu ketika kita gagal adalah kita punya waktu untuk merenung. Kita punya waktu lebih banyak untuk membisikan doa-doa secara lebih khidmat kepada Tuhan.
Datanglah, Tuhan tidak pernah menutup pintunya ketika hamba-hambaNya yang lemah dan tak berdaya ini mengetuk pintu. Walau kadang kita sendiri yang sering lupa bagaimana bersimbah sujud memohon ampun. Sadarkah? kita terlalu sibuk dengan euphoria perayaan keberhasilan. Hingga kita hanya datang untuk berlindung dari ganasnya petir yang menyelimuti mendung atas kegagalan kita.
Proses. Kegagalan adalah proses yang pasti pernah kita alami, bukan?
Belajar. Proses demi proses itu memaksa kita untuk belajar lebih banyak mengenai semua hal. Sabar, gigih, kerja keras dan pantang menyerah. Dari kota ini, Tuhan ingin aku belajar lebih banyak. Dari kota ini aku belajar menjadi lebih dewasa. Aku gagal, aku harus berjuang, aku menahan kantuk, aku menikmati setiap tetes airmata maupun keringat yang mengguyur membasahi dahi.
Kita semua harus kuat, harus bertahan. Dalam berproses memang tidak ada yang membuat nyaman. Kita dipaksa keluar dari zona nyaman dan memasuki zona tidak nyaman.
Bertemu dengan banyak orang yang lebih dulu berproses menjadi salah satu hikmah tersendiri bagiku. Dari mereka aku belajar, banyak hal. Entah kepada mereka yang sering aku ajak sharing mengenai berbagai hal, atau kepada mereka yang baru sempat dua tiga kali kuajak berbincang.
Aku senang belajar apapun dari siapapun.
Dari Kak Emir misalnya, walau tidak berdomisili di Jogja, tapi darinya aku belajar untuk berani melangkah menjadi anak rantau. Aku belajar bagaimana untuk bisa berkontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Aku belajar bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya memikirkan diri sendiri tapi juga di pundak kita ada beban tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa. Aku belajar untuk lebih berani melangkah dan berbagi.
Lantas, aku bergegas mencari tempat yang tepat untuk berproses hingga kini, aku akhirnya menemukan tempat yang bagiku bukan sekedar komisariat tempat aktualisasi diri, aku menemukan rumah. Disana aku lagi lagi bertemu dengan mereka yang sudah lebih dulu berproses, Bang Ocep misalnya, aku belajar bahwa peduli itu tidak punya batas, siap menolong dan membantu sesama. Sedikit kisah tentang masa ospekku yang sangat penuh drama, sebagai seorang anak rantau tanpa sanak saudara, ketika terjadi sesuatu denganku di lingkungan baru, aku bingung harus bagaimana, terlebih ketika aku terjatuh di depan boulevard bersama motor putih yang selalu aku naiki. Aku tidak tau harus apa, aku hanya bingung dan entah mengapa pipiku sudah basah, seluruh badanku sakit dan kelu. Datanglah mereka, satu pasukan tim ospek. Entah ada panggilan apa yang membuat sangat panik, datang juga Putri, berjalan dengan tergesa-gesa dari arah depan, wajahnya panik dan aku hanya bisa memeluknya, darinya aku juga belajar bahwa kita bisa membuat seseorang tidak merasa sendiri hanya dengan satu pelukan tulus.
Tuhan juga menunjukanku tempat proses dengan cara yang ajaib, di suatu pagi, aku hanya berjalan santai bersama mama, entah mengapa aku tertarik untuk menuju satu tempat, iya, komisariat yang selalu punya tempat khusus dalam memoriku ketika aku membicarakan Jogja. Aku ingat pertama kali disana ada Bang Argo, Bang Ilham dan Bang Akmal, yang waktu itu belum ku kenal. Tapi kini, semakin banyak pembelajaran yang aku dapat setelah mengenal satu demi satu dari mereka. Dari Bang Argo aku belajar bagaimana menjadi tidak panik tapi setiap pekerjaan bisa selesai, belajar bagaimana menjadi pemimpin yang bisa mengayomi dan belajar bagaimana menempatkan diri ketika harus tegas dan kapan harus lunak. Dari Bang Akmal pun tak jauh berbeda, kualitas kepemimpinanya serta kepandainnya dalam mengatur waktu antara akademik dan organisasi harus diacungi jempol. Dari Bang Ilham, aku belajar bahwa menjadi pemimpin itu harus bisa sabar, harus bisa mendengarkan.
Bukan hanya dari mereka, aku belajar dari Kak Dini. Aku memang tidak pernah berbicara banyak dengannya, tapi aku kagum ketika suatu acara kepanitiaan dia bisa begitu loyal, aku sangat ingat ini, "Bukan perkara take and give tapi fokuslah untuk give and give", ya, dengan cara ini Tuhan menunjukkan inspirasi untuk bisa memberi lebih banyak dan lebih ikhlas.
Akan kuceritakan lebih banyak tentang mereka yang sudah membuatku belajar,
Kak Bibil, aku selalu heran bagaimana caranya dia untuk selalu tersenyum, menyapa dan bersikap hangat kepada siapapun dan dimanapun. Aku tidak pernah melihat wajahnya lelah, suatu ketika setelah rapat kepanitiaan menjelang malam, aku bingung bagaimana caranya mengeluarkan kendaraan bermotorku dari lapangan parkir karena saat itu sudah terlalu larut dan aku lupa memindahkannya ke depan halaman kantor lembaga. Dengan cekatan dia menawarkan untuk mengantarkan ke parkiran dan menemui petugas keamanan, padahal aku tahu ia memiliki urusan lain yang lebih penting, aku dengar percakapannya dengan salah seorang rekan yang membawa banyak berkas.
Aku sungguh tidak mengerti kenapa Tuhan mengirimkan begitu banyak malaikat-malaikatnya dengan hati selembut kapas, begitu banyak aku dapat belajar.
Dari Lia misalnya, saat aku yang tidak tahu bagaimana harus berangkat ke Surbaya untuk mengurus Visa di Kedutaan Besar Jepang, Lia menawarkan dirinya untuk menemaniku. Masih ada satu lagi hambaNya yang berhati baik dan tidak pamrih. Aku juga belajar dari Kak Adel dan Kak Gema yang punya sifat keibuan. Mereka semua luarbiasa.
Mungkin bila aku tulis semua, tidak akan selesai tulisan ini. Masih terlalu banyak yang ingin aku apresiasi dari mereka yang tidak sempat tertulis di halaman ini. Walau tidak bisa kutuliskan satu per satu, tapi setiap dari kalian punya tempat masing-masing di ruang hatiku bersama seluruh kenangan tentang Jogja.
Setelah aku belajar banyak, aku mencoba menerapkan setiap hal baik dari orang-orang yang aku temui.
Agustus 2016, aku memiliki kesempatan untuk menjadi wali jawaah, atau disebut waljam, waljam bertugas menjadi kakak baiknya adek-adek yang sedang mengikuti ospek. Aku mengadopsi apa yang diterapkan Bang Ocep sebagai waljamku dulu, aku mencoba merangkul adek-adek itu. Aku mencoba menghadirkan setiap rasa manis dalam perjalanan hidupku 1 tahun di Jogja sejak 2015, aku ingin mereka merasakan hangatnya suasana Jogja, dekatnya satu sama lain walaupun jauh dari keluarga, seperti yang kurasakan.Pada akhirnya, setelah semua rangkaian acara selesai, ucapan rindu dan haru satu persatu mereka lontarkan. Apapun itu, aku bahagia jika mereka mulai mencintai kota ini juga.
Banyak. Banyak yang hal yang akhirnya kutemukan disini. Merangkai setiap mimpi bahkan membongkarnya kembali, menyusunnya, hingga ia benar-benar menjadi nyata.
Aku akhirnya merubah rute mimpiku, setelah melalui proses-proses ini. Aku ingin hidup lebih berarti dan bermakna, seperti dulu doa-doa yang aku panjatkan kepada Tuhan. Menjadi apa yang memang seharusnya merupakan tempatku. Berbagi. Aku lebih memilih menjadi pohon yang dapat menaungi banyak orang ketika terik, daripada aku harus menjulang tinggi tapi mereka tersengat matahari yang begitu panas.
Di kota ini, lagi-lagi aku menemukan banyak keajaiban. Apa kamu pernah merasakan genggam erat seorang anak yang menaruh penuh harapannya di tanganmu?
Anak yang tadinya sangat takut untuk berjumpa teman-temannya, mungkin, tidak ada satupun yang mau menggenggam tangannya untu turut bermain, aku tahu, terasa begitu dingin dan pucat tangan itu sebelumnya.
Ia menganggapmu sebagai sosok kakak yang paling mengerti dirinya, padahal, kamu sendiri tergores beribu-ribu kali karena melihat senyum tulusnya menyimpan banyak harapan.
Atau, pernah melihat kerutan di wajah renta bapak penjaga keamanan, ibu penjual tempe di pasar hingga bapak penjaga parkir di depan toko kue itu seketika mata mereka yang justru lebih banyak berbicara ketimbang mulut mereka yang semakin jarang untuk mengucap kata karena tidak banyak dari kita yang sekedar memberi sapaan tulus, menanyakan kabar atau ucapan terimakasih.
Di Jogja, banyak cara untuk memanusiakan manusia, menghargai mereka, siapapun, apapun profesinya, berapaun usianya, darimana asalnya.
Jogja memang sebuah kota, tapi kita lah yang bertugas menjadi jiwa, jiwa yang menyenangkan, menenangkan dan memberikan manfaat.
Selamat berproses,
Teruslah lakukan proses itu dan jangan merasa puas untuk menjadi lebih baik.

0 comments