Jogja: Dimana Cerita Berpadu Menjadi Rasa

Malioboro, Mei 2017.
Jogja.

Satu kota, milik bersama.
Tuhan menciptakan Jogja dengan rasa penuh kasih sayang.
Hingga kami lupa bagaimana caranya untuk terbiasa meninggalkan setiap kenangan yang pernah terukir disini.

Entah bagaimana kami para anak rantau yang dahulunya asing dengan kota ini bisa menjadi jatuh hati berkali-kali.
Datang dari setiap penjuru nusantara, sendiri, tanpa sanak saudara.
Tapi Jogja menggantikan dekap hangat peluk ayah bunda dengan tawa renyah sahabat-sahabat seperjuangan di tanah Daerah Istimewa ini.
Kata Pak Anies Baswedan, setiap sudut Jogja itu romantis. Ya, aku sependapat. Tapi tidak kalah penting untuk digarisbawahi bahwa setiap sudut Jogja terasa manis karena dikelilingi para sahabat yang humoris.

Kota ini ajaib, aku lebih senang menyebutnya dengan sebutan.. Jogja kita, bukan Jogjaku, seperti yang sering terlontar dari kami anak rantau selama ini.
Jogja kita, terdengar lebih romantis, lebih manis dan lebih plagmatis. Aku percaya Jogjaku tidak akan semenarik ini tanpa kalian, iya, kalian yang pernah mengisi detik demi detik waktuku. Untuk itu aku lebih suka menyebutnya sebagai Jogja kita. Kalian yang mengisi setiap kepingan puzzle dalam roda waktu yang tergulir selama ini.

Disini aku menemukan rumah, rumah yang bernyawa, bisa bicara dan pintunya selalu terbuka lebar. Di dalamnya juga terdapat keluarga, bukan keluarga dengan ikatan darah, tapi ikatan persaudaraan yang terbentuk karena Tuhan menyanyangi kita. Tuhan kirimkan kalian, kanda yunda dan dindaku dengan cara yang luarbiasa.

Aku tidak pernah menyangka bagaimana setiap pertemuan ini bisa merubah hidupku menjadi lebih berwarna dan indah. 

Nanti, akan kuceritakan lebih banyak tentang Jogja kita dan setiap sudutnya, ya?

You May Also Like

0 comments