Lost In Japan: Omoi Gakenai (Tak Terduga)!



Sneak Peek: Preperation.

"Excuse me, Sir"

Pria dengan jas rapi itu berjalan dengan handphone di telinga kirinya tanpa menghiraukan kami,

Baiklah, sepertinya kami akan benar-benar tidur di stasiun sampai ada satu keajabaian yang bisa mengantarkan kami tiba di hotel, atau apa kah kami harus menunggu doraemon datang membawa pintu kemana sajanya?

Aku menarik nafas panjang..

Rasanya hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi kepada kami malam itu

Aku dan Mediantari tiba di Haneda airport. Setelah melewati berbagai proses administrasi kami keluar dari bandara dan mencari stasiun kereta api menuju Sugamo.

Dua orang wanita dengan koper dan tas ransel ini berjalan ke arah information center untuk bertanya, kereta apa yang bisa kami naiki, tapi entah mengapa ternyata petugas informasi tidak mengerti bahasa inggris, parahnya kami tidak bisa berbicara dalam bahasa jepang sepatah kata pun.

Akhirnya kami memesan tiket kereta api dengan mesin, aku membaca peta yang entah ada tulisan apa di sana, semuanya tertulis dalam bahasa Jepang. Disini lah intuisi kami diuji, kami harus memilih rute menuju Sugamo tanpa tahu dimana Sugamo itu.

Mengapa tidak menggunakan aplikasi pencari denah di smartphone?

Perjalanan 7 jam di pesawat membuat batrei hape ini habis, walaupun ada tempat untuk charger di pesawat, ah, aku hanya lupa untuk menggunakannya. Mungkin aku terlalu asik menonton film selama perjalanan menggunakan Japan Airlines.

Lagi pula, kami tidak bisa menggunakan smartphone kami karena... ya, mana bisa provider kami berfungsi disini, harganya sangat mahal. Untuk menggunakan wifi bandara pun, kami bingung bagaminana.

Jadi lah kami menaiki kereta api dengan rute sesuai intuisi kami.

Menuruni anak tangga dengan terseok-seok menyeret koper ternyata menarik empati salah seorang pemuda disana, entah apa yang dia ucapkan, dia langsung mengambil koper di tangan kanan ku setelah mengucap salam dan melempar senyum kemudian menghampiri Mba Memed dan melakukan hal yang sama.

Kami mengucapkan terimakasih kemudia ia berlalu pergi. Menaiki anak tangga yang tadi kami lewati, lagi lagi Tuhan mengirim malaikatnya.

Sampai pada akhirnya,

Kami tiba di pemberhentian terkahir.

Ini dimana? 

Aku yang tertidur pulas dibangunkan oleh Mba Memed, sapaan Mediantari.

"Sepertinya kita salah rute" singkat, padat, tapi langsung membuatku terbelalak.

Jadi lah kami turun dan melihat kembali rute mana yang seharusnya kami tuju. Kami memutuskan untuk membeli tiket lagi.

Kali ini kami coba bertanya, ada yang langsung karena sibuk, ada yang dengan ramah membawa kami ke depan peta. Walau beliau, bapak parah baya itu tidak bisa berbicara bahasa inggris, ia tunjukkan jalan dengan cara menunjuk titik kami berdiri di peta sampai titik dimana seharusnya kami berada. "Sugamo" katanya, kami mengangguk-angguk.

Kami tidak langsung memesan tiket, kami duduk disebelah seorang wanita usia sekitar 25an.

Kami bertukar senyum dan pada akhirnya kami berbincang, ternyata dia bisa berbahasa inggris. Ternyata dia adalah warga asli Thailand yang menetap di Jepang. 

Sayangnya aku tidak bisa mengingat dengan baik siapa namanya, ia menawarkan untuk menemani kami membeli tiket dan mengantarkan kami sampai rute yang kami tuju.

Aku benar-benar tidak tahu betapa senangnya saat itu, akhirnya kami tidak menginap di stasiun karena tidak tahu jalan!

Kami bergegas mengikutinya dan masuk ke kereta. Sampai akhirnya kami tiba di stasiun Sugamo. Hanya satu yang bisa kami lakukan: bersyukur! Tidak henti-hentinya kami mengucap syukur, kami langsung berlari keluar stasiun dengan menarik koper serta barang bawaan lain mencari dimana hotel yang telah kami pesan.

---

Kami ke Jepang bukan untuk liburan melainkan menghadiri salah satu ajang konferensi internasional. Tema yang kami bawa adalah Islamic Psychology, terdengar asing mungkin bagi sebagian peserta, tapi ternyata mereka memberikan apresiasi yang luarbiasa.

Bahagia rasanya.

Saat Presentasi.

Tim merah muda.

How i do strees reliefe: Selfie.

Foto bersama peserta ruang 1.7

Segala macam berkas administrasi.
Setelah selesai acara, masih menggunakan card holder, bertemu ultramen, mirip kan?

---

Kami menyempatkan diri untuk menjelajahi Jepang.

Tanpa tour guide, jelas, karena kami memang bukan untuk pergi liburan, sehingga kami menyempatkan diri walaupun hari sudah larut.

Pergi ke Korean Town, ya, karena mba Memed memang sangat menyukai Korea.



Korean Town, 2016.


Kami juga melihat-lihat jalanan Harazuku, ternyata di sana sedang ada syuting penyanyi terkenal, banyak fans yang menunggu di luar gedung, kami mendekat untuk melihat, walaupun kami sama sekali tidak tahu dia siapa. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. 

Problematika ketika ke Jepang adalah soal makanan. Harus sangat hati-hati dalam memilih makanan. Ditambah lagi aku dan Mba Memed tidak begitu menyukai makanan berbentuk mie atau disini adalah udon. Lagi pula waktu itu Bang Baim pernah berpesan kepada kami untuk tidak makan makanan yang berkuah.

Bahagia itu sederhana: Makan eskrim!


Jadi lah selama disini kami selalu membeli nasi dan ikan di toko dekat hotel atau membeli burger udang di McD. Kami sama sekali tidak berani menyentuh makanan selain seafood karena dalam ajaran agama kami memang dianjurkan sangat berhati-hati memilih makanan, makanan itu harus disembelih dengan beberapa syarat seperti mengucapkan basmallah dan menyembelihnya di bagian leher dengan alat yang sangat tajam sehingga binatang yang disembelih tidak tersiksa karena alat pemotong yang digunakan ternyata tidak tajam. Ini lah yang membuat kami enggan menyantap makanan seperti sapi atau ayam, demi kehati-hatian, kami takut tidak sesuai syariat.

Sampai pada akhirnya sepulang dari Jepang aku sama sekali tidak mau menyentuh ikan karena benar-benar sudah muak memakannya setiap hari, ini terjadi berbulan-bulan.

Saat kami menjelajahi Jepang, entah apa yang kami kunjungi,aku tidak begitu ingat, kami tiba di depan rumah makan arabian food dan tertulis label halal. Betapa bahagianya kami akhirnya bisa menyantap panganan lain selain ikan ikan ikan atau udang.

Sebelumnya bahkan kami menemukan indonesian restaurant tapi apa daya, budget kami tidak tersedia untuk foya-foya, indonesian food disini harganya jauh lebih mahal daripada makanan di restoran mewah Jepang. Harga sepotong tempe saja mengalahkan harga beef steak. Ah, sabar lah, kami masih bisa menahan hasrat kerinduan terhadap makanan Indonesia, kami akan segera kembali ke tanah air!

Pilihan menu pada umumnya.

---

Benar, ya? Tuhan selalu mendegar setiap doa hambaNya. Tapi kita tidak pernah tahu doa mana yang akan dikabulkan serta usaha yang mana pulang yang akan berhasil. Maka perbanyaklah keduaya, begitu yang pernah aku dengar.

Dulu aku sangat ingin  memelihara panda,ah, tapi tidak mungkin, di Indonesia bagaimana bisa memelihara panda, lagi pula panda adalah heman yang dilindungi, kan?

Akhirnya aku memohon, setidaknya, aku ingin melihat langsung dengan mataku sendiri. Aku ingin melihat panda!

Suatu pagi, mba Memed mengajak untuk pergi ke Ueno, ya, aku ikut saja, aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Jepang.

Aku tidak bertanya di sana ada apa, sampai kami tiba di Ueno Zoo.

Seperti hari - hari sebelumnya kami sempatkan untuk membuat video vlog, walau sampai detik ini tidak juga video itu masuk ke tahap editing. Hmm sudah satu tahun, ya, padahal.

Tidak jauh dari depan gerbang, kami sedang berfoto, meletakan payung, kemudian melihat hasilnya.

Seorang kakek yang sudah renta melihat ke arah kami sambil melewati tempat kami berdiri, lagi-lagi menggunakan bahasa yang tidak kami pahami. Tapi isyarat tangannya menggambarkan bahwa ia sedang bertanya apa yang kami kenakan di atas kepala. Kami berbincang dengan bahasa isyarat, lagi. Kami jelaskann bahwa ini adalah hijab dan kami adalah seorang muslimah. Kami wajib menggunakannya, entah beliau menangkap pesan kami atau tidak. Tapi beliau manggut-manggut, dan berkata "Beautifull". Semoga beliau memang mengerti ucapan kami karena kami hanya bisa berbahasa inggris, bukan bahasa jepang.

Senang. Bukan karena dipuji cantik. Untuk apa cantik di mata manusia tapi tidak dihadapan Tuhan. Kami senang karena beliau respect terhadap kami, yang berbeda dari mereka. Kami pikir disini juga terjadi islamophobia, tenyata tidak, aku sangat ingat ketika kami di kereta, ada seorang ibu-ibu paruh baya, ia tersenyum sangat tulus ke arah kami dan ketika turun dia menghampiri sambil berkata "Kawai".

Betapa indah rasanya ketika kita bisa saling mengenal, menyapa dan melontarkan positive vibes kepada orang lain.

Sebenarnya bukan hanya dua orang tadi saja, ada pun mereka yang hanya berani menatap sambil tersenyum. Jepang tidak se-individualisme yang orang-orang katakan. 

Aku ingat ketika selesai acara konferensi, kami menyempatkan diri untuk memasuki pusat perbelanjaan, untuk membelikan sepatu adeknya mba Memed.

Mungkin sudah terlalu lelah dan malam, aku duduk di kursi sambil terdiam mengatur nafas. Seorang anak bayi tiga tahun menghampiriku dengan riang ia menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri, seperti sedang mengamati. Aku yang daritadi melamun sketika sadar saat anak perempuan itu ingin menyentuh tanganku, ia kaget, mungkin ia pikir aku adalah manekin di toko itu, tapi tenyata bisa bergerak, ia berlari sambil tertawa girang ke arah ibunya, memegang erat kaki sang ibu tapi matanya masih menatap lekat ke arah ku, ia terus tertawa, ditambah lagi saat aku juga melemparkan senyum lebar kepadanya, semakin malu-malu ia karena itu. 

Kembali kepada kisah di Ueno Zoo sebelumnya,

Akhirnya kami memasuki tempat itu. Kenapa kami bis pergi ke tempat wisata tanpa tersasar? Kami belajar dari pengalaman, jadi lah kami download rute dengan bahasa inggris ketika di hotel, mumpung ada wifi.

Tidak diduga, Ueno Zoo ternyata memiliki panda. Aku sangat excited akhirnya aku bisa melihat langsung hewan yang sangat menggemaskan itu.

Entahlah mungkin pandanya sedang gundah disana.

Mbe Memed lebih menyukai tanaman sepertinya.

Bulu kuduk-ku langsung merinding, lagi-lagi syukur kepada Tuhan, tidak henti-hentinya. Keajaiban lagi, keajabian lagi. Tuhan selalu memberikan segala sesuatunya dengan cara yang sangat manis.

---

Ke Jepang rasanya belum lengkap kalau belum ke gunung Fuji, kan?

Awalnya justru kami tidak ada niat ke sana, selain jauh, kami baca di internet, kereta api kesana sangat mahal.

Kami ingin ke Disneyland, tapi, setelah diskusi dengn teman kami yang dulu pernah kesini, dia bilang lebih baik ke Gunung Fuji saja, itu kan ikon Jepang, katanya.

Jadi lah kami berangkat ke Gunun Fuji denga travel. Haraganya jauh lebih murah, walau, jujur aku lebih senang menaiki kereta api, tapi tidak apa.

Tiba lah kami di suatu tempat pemberhentian, entah apa namanya, disini kami bisa memilih rute, tempat apa yang kami jadikan untuk menikmati gunung Fuji.

Kami memutuskan melihat gunung Fuji dari Kawaguchi Lake.

Naik lah kami di travel yang menuju ke sana.

Oh, iya, sebelumnya, kami mampit untuk makan dulu. Dan..... kami maka udon, karena tidak ada pilhan menu lain. Ingin kami memesan nasi kari, ternyata, they said.. itu adalah pork. Hmm, baiklah kami pesan udon.

Aku adalah penyuka greentea, jadi lah ku pesan greentea untuk minum. Mba Memed memesan kopi. Mungkin dia sangat ngantuk?

For the first time kami tidak menyantap ikan.

Udon ini berkuah, tapi kami ucapkan bismillah saja.. walau agak sedikit kaku lidah ini untuk menelannya, khawatir.

Datang lah minuman kami, dalam pikiranku, greentea disini sama seperti yang biasa aku jumpai, manis, lezat, ada bubble seperti yang biasa ada pada ice blend. Ternyata yang datang adalah greentea murni. Benar-benar teh hijau, tanpa gula. Rasanya aku seperti meminum rumput. Hambar. Pahit. Entahlah, lidahku tidak bisa mendeteksi rasa. Aku bergegas meminum air putih dari tumbler  yang kuselipkan di tas. 

Hal yang sama terjadi kepada mba Memed, kopi yang dia pesan benar-benar berbeda dari coffee shop yang biasa kami jumpai. Benar-benar kopi murni, tanpa gula.

Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi acara makan siang yang entah kami sebut apa ini.

Kami berangkat.

Tapi drama travelling ini tidak juga berakhir, kami tiba di Kawaguchi Lake.

Tunggu. Mana gunung Fujinya?

Tidak ada tanda-tanda ada gunung Fuji disini.

Kami bingung, salin melempar pandangan.

Ditambah lagi travel bis yang mengantar kami tadi sudah pergi, kami tidak tahu kapan lagi akan kembali.

Sudahlah, kami memustuskan untuk menikmati pemandangan disini. Indah. Anginnya berhempus sepoi-sepoi.


Tidak ada gunung Fuji, kan?


Kami mencari cara untuk pulang, menunggu di pemberhentian bis.

Disini kami, tidak tahu harus kemana.

Tapi di tengah perjalanan sesuatu terjadi, mungkin badan ini terlalu lelah hingga mual perut ini. Kami berhenti dan mencari toilet. Setelahnya, kami ketinggalan bis dan tidak tahu sedang dimana.

Berjalan. Berjalan terus tanpa tahu sedang dimana dan harus menuju kemana.

Satu-satunya yang bisa kami lakukan hanya menikmati perjalanan, mengambil beberapa pose foto, mengikuti intuisi, lagi, dan berdoa.

Kami berjalan semakin jauh, semakin sepi.

Kami sudah berada di antara gedung perkantoran tapi terlihat tidak ada aktivitas disana, ada pula rumah rumah kecil. Hari semakin petang, beberapa kali kami coba menyapa orang, tapi tidak menoleh.

Diujung sana ada dua anak sekolah, sepertinya baru pulang sekolah.

Kami menyapanya dengan sisa tenaga yang ada.

Kami bilang, kami tersesat.

Lagi.

Kami memang hobi tersesat sepertinya.

Kedua anak itu tidak bisa berbahasa inggris dengan lancar, tapi mereka memiliki hati yang baik. Sangat baik. Mereka memutuskan untuk mengantar kami ke stasiun kereta yang dapat mengantarkan kami kembali ke Sugamo.

Sepanjang jalan kami berbincang dengan segala keterbatasan diantara kami yang tidak saling bisa dengan lancar berkomunikasi, namanya Ami dan Hanaka. Mereka mengajak kami untuk wefie, berfoto berempat dengan kamera handphonenya yang memiliki efek-efek menggemaskan seperti ini:


Foto menggunakan kamera handphone Hanaka.

Akhirnya kami meminta kontak mereka dan sampai saat ini kami masih melakukan kontak dengan mereka.

Ami dan Hanaka sekarang sudah memasuki perguruan tinggi, bahkan salah satu dari mereka pindah ke Amerika. Salah satu dari mereka mengambil jurusan bahasa inggris. Aku merinding, apa mereka mengingat kami dan ingin belajar bahasa inggris?

Ah, rasanya aku rindu berada disana.

Ami dan Hanaka sering kali menanyakan kabar kami dan mereka selalu bertanya kapan kami akan kembali ke Jepang?

Kami juga sangat ingin kembali ke sana.

Mungkin kami memang tidak bisa melihat gunung Fuji saat itu,

Tapi Tuhan beri sesuatu yang lebih berharga. Sahabat baru.

Rasanya sangat membahagiakan. Dengan tragedi lost in Japan yang berkali-kali kami alami, kami semakin ingin mengucap syukur karena dengan cara-cara yang tak terduga Tuhan lagi-lagi mengirimkan pertolongannya melalui hati demi hati lembut yang tergerak membantu kami.

Rasanya saat itu kami benar-benar ingin menangis, yang ada di pikiran kami bagaiamana kami bisa pulang, kami jadi sangat rindu dengan tanah air, kami bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi bila kami masih luntang lantung di jalanan.

Haru.

Entah bagaimana Tuhan selalu menyayangi kami.

Ingin aku bersembuh sujud menangis sejadi-jadinya untuk mengungkapkan bahwa aku benar-benar bersyukur.

Bahkan air mata ini tidak bisa tertahankan lagi ketika kami dalam perjalanan kembali ke Sugamo.

Entah apa perasaan ayah ibu kami jika kami benar-benar hilang di Jepang dan tidak kembali.

Satu lagi pembelajaran yang sangat berharga, ternyata benar, you'll find yourself when you travelling.
Sejauh apapun kaki ini melangkah, doa lah yang membawa kita kembali. Tuhan memang lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri.

You May Also Like

0 comments